Printed Book
Menjadi Murobbi Sukses
Sesungguhnya kebangkitan kembali Islam membutuhkan sosok pelaku sejarah seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Mush'ab bin Umair, Abdurrahman bin Äuf, Bilal bin Rabbah, Khadijah binti Khuwailid, Ummu Sulaim, sampai Aisyah binti Abu Bakar, bahkan dalam kualitas yang lebih baik lagi. Merekalah barisan pejuang yang punya satu orientasi yaitu Allah.
Mereka tidak lemah secara moral dan kejiwaan ('adamul-wahn), tidak lemah secara jasad dan amal ('adamud-dha'fu) dan tidak jumud (stagnasi/ beku) dalam berpikir ('adamul-istikanah). Mereka senantiasa mengajar umat (tu'allimunal-kitab) dan juga senantiasa belajar dan mengambil pelajaran (tadrusuun).
Menghadirkan kembali sosok seperti mereka bukan berarti harus meng'hadir kan
kembali Rasulullah saw. Akan tetapi, dengan mengikuti kembali sunnah dan jalan yang allakukan Rasulullah dalam mencetak mereka, para rajulud-da'wah (pemuda/ pendukung dawan). Yaitu tarbiyah Islamiyah dan para mu'min yang secara sadar memposisikan diri sebagai murobbi. Mereka inilah yang disebut sebagai warastur-anbiya atau pewaris para nabi.
Inilah prasyarat bagi shahwah Islamiyah! Jadi ungkapan bahwa seorang al-akh hendaknya menjadi murobbi bermakna jauh lebih besar dari sekadar doktrin.
Tetapi sebagai upaya memenuhi prasyarat bagi kebangkitan Islam yang merupakan kewajiban semua orang dalam umat ini. Kaidah Fiqh menegaskan, "Maa laa yatimmu al-wajibu illa bihi, fahuwa al-wajibu" (sesuatu yang tidak sempurna bagi suatu kewajiban kecuali dengannya, maka ia menjadi wajib.")
| 11693c1 | 297.31 SAT m | Perpustakaan Labschool Jakarta (200) | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain